Nadiem Makarim Sebut Kurikulum Merdeka Jadi Solusi Loss Learning

photo author
Udin Kuswandi, Klik Pendidikan
- Senin, 21 Februari 2022 | 20:35 WIB
Nadiem Makarim  (instagram.com/@nadiemmakarim)
Nadiem Makarim (instagram.com/@nadiemmakarim)


KLIK PENDIDIKAN - Loss learning yang terjadi karena dampak dari Covid 19 ini memberikan efek penurunan kualitas pendidikan di Indonesia.

Bahkan dari analisis data yang dilakukan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, loss learning yang terjadi rerata setara dengan 6 bulan pembelajaran untuk literasi dan 5 bulan pembelajaran untuk numerasi.

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Nadiem Makarim menjelaskan solusi yang dibutuhkan untuk mengejar ketertinggalan atau loss learning itu adalah kurikulum yang tepat.

Baca Juga: Dampak Pandemi Covid, Rerata Sekolah Alami Loss Learning Selama 6 Bulan

Kurikulum itu menurut Nadiem adalah kurikulum merdeka yang baru saja diluncurkan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek).

"Jadi kita membangun suatu solusi kurikulum berdasarkan keinginan kita untuk mengejar ketertinggalan kita," ucap Nadiem Makarim dikutip Klik Pendidikan dari akun Youtube Kemendikbud RI.

Salah satu yang menjadi fokus target dari kurikulum merdeka lanjut Nadiem adalah mengejar ketertinggala di bidang literasi dan numerasi.

Sebagaimana dari analisis yang dilakukan, literasi mengalami loss learning setara 6 bulan sedangkan numerasi mengalami hal yang sama setara 5 bulan.

Baca Juga: Learning Loss Literasi Selama Pandemi, Rata-rata 6 Bulan Pembelajaran

Kurikulum merdeka ini kata Nadiem berkaitan dengan kurikulum darurat yang telah diluncurkan saat awal terjadinya pandemi Covid.

"Di kurikulum darurat itu kita menurunkan jumlah materi secara drastis agar pelajar dan pengajar itu bisa fokus untuk mendalami topik-topik yang paling esensial," jelas Nadiem Makarim.

Saat itu kata Nadiem, kurikulum yang digunakan masih kurikulum 2013 namun lebih disederhanakan dengan adanya kurikulum darurat karena adanya Covid.

Ditegaskan Nadiem, penerapan kurikulum darurat saat itu tidak dipaksanakan dan menjadi kewenangan sekolah di masing-masing wilayah.

"Apa yang terjadi setelah itu? Ini kita berikan pilihan kepada sekolah di seluruh Indonesia menggunakan ini. Ternyata, tanpa kita mengharapkan begitu besar, ternyata 31,5 persen sekolah kita pindah menggunakan kurikulum darurat. Ini tidak dipaksa," jelasnya lagi.

Baca Juga: Terobosan yang Telah Dikeluarkan Kemendikbudristek di Bulan Februari

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Udin Kuswandi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X