Lulusan SMK penyumbang pengangguran terbesar

Pera siswa guru, penyelenggara pendidikan SMK di Indonesia tentu sangat galau dengan pernyataan atau penyajian ‘fakta’  ini. Sebuah realitas yang sangat pahit yang harus mereka telan karena angka-angka statistik menunjukkan kenyataan ini.

Terlebih diskursus ini meluas dengan reaksi beberapa pihak seperti penyataan kepala daerah yang berniat akan menutup SMK-SMK yang terbukti sebagai penyumbang pengangguran terbesar di wilayahnya.

Ini tentu kontras dengan semangat mengembangkan SMK sebagai Vocatioal School yang diproyeksikan penyediakan tenaga-tenaga siap pakai yang seharusnya bisa langsung bekerja setelah lulus dan diharapkan bisa mengurangi keterbatasan sumberdaya manusia serta menjadi solusi masalah pengangguran di negeri ini.

Kita mungkin tidak harus serta merta menyalahkan SMK dan merubah arah kebijakan pendidikan setelah mendapat informasi ini. Tanpa maksud membela atau menyampaikan excuse, mungkin kurang fair membandingkan lulusan SMA yang rata-rata langsung melanjutkan ke perguruan tinggi sehingga terbebas dari status dan atribut pengangguran dengan siswa SMK yang ketika lulus harus bergelut mencari / membuka kesempatan kerja bersaing dengan lulusan sarjana serta politeknik yang memiliki jenjeng lebih tinggi.

Barangkali memang ada yang perlu diperbaiki / di pertajam dengan sistem pendidikan kejuruan kita. Tapi bermunculannya berbagai sekolah kejuruan untuk berbagai sektor usaha spesifik seperti industri kuliner/ pariwisata / teknologi informasi dan sebagainya merupakan tren positif menyambut era revolusi industri 4.0 dan bonus demografi menyambut generasi emas Indonesia 2045 nanti.

Tinggal bagaimana semua stackholder pendidikan melihat peluang dan kebutuhan yang perlu menjadi acuan pembenahan di SMK-SMK yang ada agar lebih bisa mengantisipasi perkebangan dunia usaha dan industri yang berkembang pesat.

Adi wirawan, SE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *