Kepindahan Ibukota dan Harapan Pemerataan Pendidikan

Penyataan Presiden Jokowi mengenai kepindahan ibukota ke Kalimantan Timur menimbulkan pro dan kontra yang cukup hangat mewarnai linimasa kita hari-hari ini.

Ada yang menyambut dengan suka cita seperti reaksi kepala-kepala daerah yang menjadi tujuan kepindahan, baik itu gubernur kalimantan, bupati dan walikota di kabupaten serta kota di kalimantan.

Adapula yang memberikan penolakan terutama dari kelompok partai non pemerintah dan ASN di Jakarta yang diberitakan 90 persen lebih tidak menghendaki ibukota dipindahkan.

Ada banyak alasan yang mengemuka dari dukungan dan penolakan atas keputusan pemindahan ibukota itu. Bagi dunia pendidikan, kepindahan ini bisa menjadi secercah harapan bagi terwujudnya pemerataan pendidikan yang selama ini terkesan “Jawa Sentris”.

Kita tahu perguruan-perguruan tingggi favorit saat ini ada di Pulau jawa. Sebut saja Universitas Gajah Mada, Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Institut Teknologi Surabaya dan beberapa perguruan tinggi Swasta yang cukup populer.

Perguruan-perguruan tinggi itu menjadi magnet yang sangat kuat bagi calon mahasiswa dari berbagai daerah bahkan asing untuk bisa mengecap pendidikan tinggi di salah satu perguruan tinggi favorit di atas.

faktanya, saat ini Jawa begitu digdaya dari segi kualitas dan kuantitas perguruan tinggi yang ada dibandingkan “luar jawa”.

Saat anda jalan-jalan ke luar jawa, sebutlah nama sebuah peruruan tinggi di Jawa sebagai almamater anda. Maka serta merta orang akan menunjukkan rasa hormat yang lebih pada anda. Percayalah, penulis pernah mengalaminya.

Lalu, apakah pemindahan ibukota akan merubah mindset itu? Ya, pemindahan ibukota akan secara signifikan merubah pola pemerataan pendidikan di Indonesia. Potensi Pulau kalimantan memberikan ruang yang begitu luas berdirinya perguruan tinggi- perguruan tinggi baru, aliran anggaran dan investasi di bidang pendidikan.

Seperti yang sampaikan oleh ketua Bapenas pak Bambang Brojonegoro. Prioritas pembangunan di ibukota baru adalah sektor pendidikan dan perumahan.

Harapan baru untuk pemerataan pendidikan bisa mulai dibangun sebesar hamparan daratan pulau kalimantan yang luasnya 6 kali pulau Jawa.

(Adi Wirawan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *