GURU & SUKSESI

Klikpendidikan.com – Harapan… angin segar yang selalu berhembus manakala perubahan menjadi sebuah keniscayaan, demikian pun sebaliknya, kekhawatiran akan merebaknya anomali tatanan menyergap sisi lain dari ruang berfikir kita.

Menjelang berpindahnya tampuk kepemimpinan muncul beragam pandangan dan spekulasi yang didasari oleh dua kutub pola fikir kita yaitu harapan dan kekhawatiran yang di era informatika sekarang ini mudah sekali tersebar dengan cepat. Tidak jarang pihak-pihak yang memiliki syahwat besar untuk berkuasa memanipulasi pola fikir publik dengan asumsi-asumsi terpola yang bertujuan semata-mata agar memperoleh legitimasi publik sebagai syarat mutlak untuk berkuasa dalam sistem demokrasi import dari penguasa peradaban zaman ini.

Ketidaksiapan publik untuk menerima dan bersikap bijak dalam menghadapi perubahan sebagai fitrah dari tata semesta tidak terlepas dari sistem pendidikan “jiplakan” dan sarat kepentingan asing yang kita serap dengan mimpi memperoleh hasil secara instant sebagai pembungkus proses pembodohan yang kita lakukan dengan “setengah sadar” karena tatanan pemerintahan negara kita berada dalam tekanan konspirator global yang berada diluar maupun yang menyusup (atau disusupkan).

Jeratan dengan umpan “hasil instant” inilah yang kalau tidak dilawan dengan kesadaran akan pentingnya merevolusi sistem pendidikan kita akan menggantung leher anak-anak bangsa pada dekade yang akan datang.

(Yudi Herawan, klikpendidikan.com)

Bagi para pendidik (guru) mutlak segera dilakukan olah rasa dan olah fikir demi terciptanya sistem pendidikan yang sesuai untuk anak-anak bangsa ini. Tidak usahlah anak-anak bangsa ini diajari berhitung hanya agar dapat mengukur kekuatan dan kelemahan dalam meraih kekuasaan, tapi ajarilah meraka agar dapat mengukur seberapa besar kemampuannya dalam memberi manfaat bagi umat dan terus mengasah kemampuannya. Tidak usahlah terlalu memusingkan siapa yang akan menjadi pemimpin bangsa ini, tapi mulailah berbuat untuk menciptakan anak-anak bangsa yang siap untuk memimpin dan siap untuk menerima pemimpinnya, karena menjelang suksesi saat ini kita harus mewaspadai friksi yang dapat memicu konflik sebagai dampak dari cacat bawaan demokrasi, yaitu hegemoni mayoritas (bukan lagi “benar” dan “salah”, “baik” dan “buruk”) yang untuk mencapainya jelas-jelas bertentangan dengan Pancasila-kita.

Disinilah sebenarnya pendidik  memiliki peran paling strategis dalam membentuk generasi mendatang sebagai generasi unggul dan bijak dalam mengarungi zaman yang pasti akan mengalami perubahan, tentunya dengan keberanian untuk mencampakkan teori-teori dan dalil-dalil yang tidak cocok untuk diterapkan kepada anak-anak Indonesia, karena kita tidak ingin generasi yang terbentuk adalah generasi yang rentan terhadap serangan peradaban dari para konspirator global  yang bertujuan menguasai dunia yang cuma satu-satunya ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *