Ancaman hoaks dan keutuhan bangsa

Sejak awal kelahirannya, teknologi informasi diakui memang menyimpan nilai strategis bagi daya saing suatu bangsa, sampai ada jargon “siapa yang menguasai informasi, akan menguasai dunia”.

Maka, negara-negara didunia berlomba-lomba berinvestasi dibidang infrastruktur serta riset dibidang teknologi informasi dengan anggaran yang sangat besar.

Amerika kembali menjadi pionir dengan proyek American Super Highway nya dengan didukung koorporasi dibidang teknologi seperti AT & T , IBM, HP membangun jaringan serat optik di seluruh dataran amerika.

Hasilnya, Hegemoni trafik internet yang cukup dominan hingga hari ini, serta lahirnya raksasa-raksasa teknolgi seperti Google, Apple, Facebook, Amazon dan sebagainya.

Meski begitu, sejak awal kelahirannya sudah disadari akan ada sisi gelap dari perkembangan teknologi informasi ini. Ancaman-ancaman yang cukup menakutkan mewarnai pesatnya pertumbuhan internet, perkembangan teknologi jaringan wireline dan wireless.

Virus! merupakan sisi gelap teknologi ini. Mulai dari kerusakan kecil sampai skala global pernah terjadi akibat infeksi virus komputer. Kemudian sejarah kecermelangan komputer kembali tercoreng oleh ancaman milenium bug. Sempat menjadi momok berbagai sektor usaha khususnya dunia perbankan jelang pergantian milenial dua puluh tahun silam.

White colar crime, dengan berbagai variannya bermunculan dari negara-negara yang memiliki infrastruktur dan SDM TI yang cukup maju. Predator sosial media, ketergantuangan gadget menjadi masalah sosial baru yang timbul dan menjadi concern khusus masyarakat dan pemerintah.

Penyebaran hoaks akibat minimnya literasi digital serta munculnya kekuatan social engineering yang untuk kepentingan tertentu merusak tatanan masyarakat dan dikendalikan secara remote dari suatu ruang / tempat yang sulit dijangkau hukum teritori negara.

Fenomena-fenomena di atas meski tidak boleh menyurutkan kita dalam merangkul perkembangan TI yang pasti menjadi tumpuan harapan masa depan siatu bangsa, perlu diimbangi dengan kesadaran akan bahaya serta ancaman nyata atau tersembunyi yang terkandung didalamnya.

Belajar dari berbagai peristiwa baik di dalam maupun di luar negeri, seperti pemilu presiden di Amerika, (Canbridge Analytics). Pilgub DKI Pilpres 2019, skandal bendera di Surabaya-Papua. Harus ada langkah-langkah kongkrit untuk memastikan ketahanan digital bangsa kita akan bisa menangkal ancaman-ancaman seperti itu di masa depan.

Harus disadari bahwa dunia dengan kehidupan digital didalamnya tidak lagi sesederhana masa-masa sebelumnya. Ketika batas-batas geografis hilang, teknologi kecerdasan buatan / machine learning, big data, Internet of Things berkembang. Maka perubahan atau pergeseran perilaku individu, sosial manusia niscaya akan ter re-engineer, tercampur dengan faktor artificialnya.

Lalu ketika akhirnyahal itu memicu gejolak sosial, chaos, anomali politik, pertanyaan besarnya adalah siapa yang akan menanggung akibatnya dan siapa yang akan mengambil keuntungan darinya?

Adi Wirawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *